Sunday, November 17, 2013

Aku tahu ini bukan jaminan

Hari ini seperti hari hari biasanya, aku bangun-sekolah-pulang-makan-tidur dan berulang-ulang seterusnya, kalaupun ada kegiatan lain mungkin tak ada yang hebat. Hanya ada sesuatu yang berbeda, aku bersama benda asing yang akhirnya kujadikan kawan untuk bersekolah; kerudung. Jangan pikir bahwa aku berkerudung dan aku baik. Tidak. Aku masih bongkar-pasang, kalau sudah pulang sekolah ya... aku lepas, buat apa panas-panasan.

"Aku mau berkerudung di sekolah dulu, masih belajar" begitu bisikku kalau hendak melepas kerudung. Bahkan, kerudungku tak ubahnya kerudung kekecilan. Entahlah, aku tidak tahu ukuran yang benar kalau berkerudung, yang penting tertutup. Kadang kalau melihat cewek yang rambutnya di hias dan di gaya-gayain sedemikian rupa rasanya ingin kusudahi saja berkerudung seperti ini. Tapi, tekadku untuk memperbaiki diri selalu menyelamatkan kerudungku.

Pada suatu siang, aku hendak berangkat ke bioskop bersama temanku, tentu saja tanpa kerudung. Kemudian ada penumpang yang naik, entah kenapa darahku berdesir melihatnya, yang kulihat adalah perempuan sederhana yang memakai pakaian longgar dengan kerudungnya yang anggun, entah kenapa pula aku malu, sangat malu. Malu yang sama aku rasakan pada saat berkunjung ke rumah teman sebayaku dan ia sedang mengaji, merdu sekali.

Singkat cerita, aku berniat untuk menambah wawasanku soal agama, mulai rajin mengaji dan memperbaiki semua yang negatif. Aku baca buku, website, bertanya ke teman, dan apapun yang mendukung niatku. "Masak orang lain bisa, aku enggak" begitu pikirku. Sampai pada saat aku berada di angkot bersama temanku, ada dua orang perempuan (agak) gemuk dan berpakaian serba ketat yang sedang berbincang. Obrolan mereka berisik sekali, dengan mimik muka yang ekspresif membuat mataku sakit dan mau mimisan melihatnya, di ujung pembicaraan mereka menyindir perempuan entah siapa yang menurut pembicaraan mereka, perempuan tsb jilbaber yang pakaiannya tertutup dan lebar,"Emang gak risih apah! Yakin gak tuh pasti masuk surga?" celetuk salah satu dari mereka. Obrolannya nyerempet pula ke soal pesantren dengan nada yang negatif membuat aku semakin gerah dan untungnya mereka segera turun dari angkot. Fyuuh

"Emang gak risih apah! Yakin tuh pasti masuk surga?" terus terngiang di pikiranku. Aku tidak tahu apakah tujuanku berkerudung adalah surga, surga rasanya terlalu jauh untuk dibayangkan. Menurut yang kubaca, untuk masuk surga bukan hanya modal kerudung, tapi akhlak yang baik. Jadi, kerudung tanpa akhlak yg baik hanya akan menjadi sehelai kain tanpa 'ruh'. Aku tahu tuhanku yang maha baik itu juga maha melihat, tidak akan luput dari catatannya yang baik dan yang buruk. Usaha demi ridhoNya, tak perlu khawatir, semua dapat balasan sesuai perbuatannya.

Pernah kubaca juga artikel tentang jilbab hati, jilbabin hati dulu baru fisik begitu jargonnya. "Ukuran hati yang terjilbabi itu seperti apa sih?" Aku bertanya dalam hati. Apakah dengan tidak lagi berbuat dosa? Kita kan bukan malaikat? Entahlah. Mungkin kalau aku tidak pernah memutuskan berkerudung, aku tidak akan merasakan malu ketika tidak berbuat baik.

Itu ceritaku saat usiaku sekitar 16 tahun.

Lalu apa? Sekarang aku sudah baik? Tidak juga. Aku tidak pernah merasa baik, itu yang membuatku terus berusaha memperbaiki diri. Aku tahu kerudungku bukan jaminan, tapi sudah jelas bahwa tidak menutup aurat tidak akan mencium bau surga. Sama halnya dengan sholat, yang sudah 5 waktupun mustahil terhindar dari dosa, yang berjilbab pun sama, manusia biasa yang jauh dari sempurna. Kalau kautunggu sampai hatimu terjilbabi mungkin sampai seumur hidup. Biarkan jilbab fisikmu yang menjilbabi hatimu juga.