Thursday, December 12, 2013

Puisi | Potret Negeriku

Untuk pagi yang aku rindukan
Manakala matahari beringsut dari timur
Yang cahayanya hadirkan harapan
Pada embun yang setia menyambut
Pada pepohonan yang lelap bersama rembulan

Kubuka jendela namun tak kudapati yang kuminta
Apalah gunanya mentari jika semua gelap gulita
Jutaan anak kelaparan
Jutaan anak hidup dalam kebodohan
Jutaan ibu mati dalam perjuangan
Jutaan bapak tak mengaku sebagai bapak


Inikah potret negeriku yang hampir tumbang?
Yang moralnya terkikis dan terbuang
Sedang tiang iklan para punggawa berdiri kokoh menjulang
Yang jiwa patriotnya tumbuh saat dekat peluang
Ya, peluang jadi pemimpin gadungan

Orang miskin paling mulia di negeri ini
Teristimewa yang miskin ilmu dan agamanya
Rupiahmu mampu taklukan mereka
Atas janji-janji demokrasi klise
Sudahlah, jangan kausebut-sebut lagi demokrasi yang mati dibunuh keserakahan itu
Arwahnya sudah tenang bersama mimpi-mimpi perindu keadilan

Aku benci pada pagi yg suguhkan pilu
Aku rindu pagi yang dulu
yang mungkin tak sempat dirasakan generasiku
Embun tak lagi bening
Keruh. Lirih

Apa yang patut aku cemburui?

Apa yang lebih indah dari mendo'akan secara diam-diam? Bahkan yang namanya selalu kausebut dalam do'a tak pernah menyebut namamu walau dalam mimpinya. Lalu, apa yang lebih sakit dari mantra 'semoga' yang tak pernah berbuah nyata? Tapi inilah adanya, aku masih disini dengan rintihan rindu yang menyayat kalbu, dengan beban asmara yang tak pernah dipikul bersama, tapi.. Aku menikmatinya.

Lima tahun silam kita pernah berdua di penghujung sore, menyaksikan sang surya yang kembali ke peraduan. Kau bilang itu sangat indah, bagiku tidak. Andaikan ada 48 jam dalam sehari, dimana aku bisa menghabiskan waktu bersamamu lebih lama, pastilah aku lebih bahagia.

Kita terpenjara dalam istilah 'teman'. Baiklah, apa yang buruk dari pertemanan? Tidak ada, kecuali sejak mata itu menikam logika ini, sejak kata dan lakumu berbentuk perhatian yang berlebih dari seorang yang hanya bergelar 'teman'.

Hari demi hari kuhabiskan sembari berangan jauh lewati batas nyata. Angan tentangmu tak pernah habis berpijar dalam alam bawah sadar ini. Aku tak mungkin memulai, aku juga malas menunggu, tapi.. Apa yang kutunggu? mungkin aku saja yang berlebihan menyangka bahwa kamu punyai rasa yang sama.

Bertahun-tahun aku bangun harapan ini, tapi hanya dengan sepersekian detik kamu buat lebur. Pelukan yang kuharapkan jadi milikku, kini kaupasrahkan ke orang lain, di depan mata ini. Mata yang pernah takjub atas seorang lelaki berbadan tegap dengan suara yang tegas nan dilembutkan. Kemudian dengan riangnya kaukenalkan dia padaku. Sungguh, tak sampaikah akalmu menyadari perasaan yang jelas-jelas ku tunjukkan selama ini? Tak pernah ada artinyakah kebersamaan kita? Tapi apa yang patut aku cemburui? Toh kita tidak saling memiliki.

Ingatan itu lekat sampai kini, rasa kecewa tak sebanding dengan kerinduan yang memeluk kehampaan ini. Biarlah sementara aku berjuang merapihkan kepingan hati itu, untuk nanti akan kuserahkan pada yang layak, meski kata 'sementara' itu tak tau sampai kapan.

Monday, December 9, 2013

Tentang diri

Bayangan mereka mengkilap bak permata di mataku, berjalan dengan gagahnya dan penuh wibawa. Pandangan mereka elok terjaga, tak pernah kulihat mata itu genit memandang ikhwan non mahram dan tutur katanya lembut namun tegas dengan lantangnya menyiarkan islam. Merekalah orang-orang yang aku kagumi.

"Hai Pecundang! Mau apa kau ada di dunia ini?" Katanya 
"Untuk menjadi hamba Allah" Jawabnya
"Hamba Allah kau bilang? adakah Hamba Allah yang masih lalai mengerjakan kewajibannya!"Bentaknya
"Aku akan berubah" Sahutnya.
"Lalu adakah Hamba Allah yang masih membenci orang tuanya?" Kembali ia bertanya
"Aku akan berubah dan mengubur benci ini dengan seiring waktu" Sangkalnya
"Kau Hamba Allah yang acuh terhadap sunah rasulmu, benarkah" Tanyanya dengan dagu terangkat
"Benar, tapi aku akan berubah" jawabnya dengan lirih
Setelah puluhan pertanyaan dilontarkan, dengan berlinang air mata ia kembali bertanya "Lalu, kapan kau akah berubah wahai orang yang mengaku Hamba Allah? Kau benar, kau Hamba Allah... tapi yang tidak pernah benar-benar menghamba"
Inilah aku; Si Pecundang. Aku masih membenci diriku sendiri, melontarkan makian berkali-kali, hanya kebencian yang semakin membatu pada diriku sendiri.

Temaram di wajahku masih nyata, kilau mereka masih terlalu jernih untuk kugapai. Aku berlari mengejar kilau itu, tapi mereka terlalu cepat dan aku tertinggal jauh. Kupakai apa yang mereka pakai walau tak serupa, kulakukan apa yang mereka kerjakan walau tak sewaktu, namun tetap tak kudapatkan diriku seindah mereka. Duhai Tuhan, bisakah aku yang buruk hati ini berkilau seperti mereka?