Thursday, December 12, 2013

Puisi | Potret Negeriku

Untuk pagi yang aku rindukan
Manakala matahari beringsut dari timur
Yang cahayanya hadirkan harapan
Pada embun yang setia menyambut
Pada pepohonan yang lelap bersama rembulan

Kubuka jendela namun tak kudapati yang kuminta
Apalah gunanya mentari jika semua gelap gulita
Jutaan anak kelaparan
Jutaan anak hidup dalam kebodohan
Jutaan ibu mati dalam perjuangan
Jutaan bapak tak mengaku sebagai bapak


Inikah potret negeriku yang hampir tumbang?
Yang moralnya terkikis dan terbuang
Sedang tiang iklan para punggawa berdiri kokoh menjulang
Yang jiwa patriotnya tumbuh saat dekat peluang
Ya, peluang jadi pemimpin gadungan

Orang miskin paling mulia di negeri ini
Teristimewa yang miskin ilmu dan agamanya
Rupiahmu mampu taklukan mereka
Atas janji-janji demokrasi klise
Sudahlah, jangan kausebut-sebut lagi demokrasi yang mati dibunuh keserakahan itu
Arwahnya sudah tenang bersama mimpi-mimpi perindu keadilan

Aku benci pada pagi yg suguhkan pilu
Aku rindu pagi yang dulu
yang mungkin tak sempat dirasakan generasiku
Embun tak lagi bening
Keruh. Lirih

Apa yang patut aku cemburui?

Apa yang lebih indah dari mendo'akan secara diam-diam? Bahkan yang namanya selalu kausebut dalam do'a tak pernah menyebut namamu walau dalam mimpinya. Lalu, apa yang lebih sakit dari mantra 'semoga' yang tak pernah berbuah nyata? Tapi inilah adanya, aku masih disini dengan rintihan rindu yang menyayat kalbu, dengan beban asmara yang tak pernah dipikul bersama, tapi.. Aku menikmatinya.

Lima tahun silam kita pernah berdua di penghujung sore, menyaksikan sang surya yang kembali ke peraduan. Kau bilang itu sangat indah, bagiku tidak. Andaikan ada 48 jam dalam sehari, dimana aku bisa menghabiskan waktu bersamamu lebih lama, pastilah aku lebih bahagia.

Kita terpenjara dalam istilah 'teman'. Baiklah, apa yang buruk dari pertemanan? Tidak ada, kecuali sejak mata itu menikam logika ini, sejak kata dan lakumu berbentuk perhatian yang berlebih dari seorang yang hanya bergelar 'teman'.

Hari demi hari kuhabiskan sembari berangan jauh lewati batas nyata. Angan tentangmu tak pernah habis berpijar dalam alam bawah sadar ini. Aku tak mungkin memulai, aku juga malas menunggu, tapi.. Apa yang kutunggu? mungkin aku saja yang berlebihan menyangka bahwa kamu punyai rasa yang sama.

Bertahun-tahun aku bangun harapan ini, tapi hanya dengan sepersekian detik kamu buat lebur. Pelukan yang kuharapkan jadi milikku, kini kaupasrahkan ke orang lain, di depan mata ini. Mata yang pernah takjub atas seorang lelaki berbadan tegap dengan suara yang tegas nan dilembutkan. Kemudian dengan riangnya kaukenalkan dia padaku. Sungguh, tak sampaikah akalmu menyadari perasaan yang jelas-jelas ku tunjukkan selama ini? Tak pernah ada artinyakah kebersamaan kita? Tapi apa yang patut aku cemburui? Toh kita tidak saling memiliki.

Ingatan itu lekat sampai kini, rasa kecewa tak sebanding dengan kerinduan yang memeluk kehampaan ini. Biarlah sementara aku berjuang merapihkan kepingan hati itu, untuk nanti akan kuserahkan pada yang layak, meski kata 'sementara' itu tak tau sampai kapan.

Monday, December 9, 2013

Tentang diri

Bayangan mereka mengkilap bak permata di mataku, berjalan dengan gagahnya dan penuh wibawa. Pandangan mereka elok terjaga, tak pernah kulihat mata itu genit memandang ikhwan non mahram dan tutur katanya lembut namun tegas dengan lantangnya menyiarkan islam. Merekalah orang-orang yang aku kagumi.

"Hai Pecundang! Mau apa kau ada di dunia ini?" Katanya 
"Untuk menjadi hamba Allah" Jawabnya
"Hamba Allah kau bilang? adakah Hamba Allah yang masih lalai mengerjakan kewajibannya!"Bentaknya
"Aku akan berubah" Sahutnya.
"Lalu adakah Hamba Allah yang masih membenci orang tuanya?" Kembali ia bertanya
"Aku akan berubah dan mengubur benci ini dengan seiring waktu" Sangkalnya
"Kau Hamba Allah yang acuh terhadap sunah rasulmu, benarkah" Tanyanya dengan dagu terangkat
"Benar, tapi aku akan berubah" jawabnya dengan lirih
Setelah puluhan pertanyaan dilontarkan, dengan berlinang air mata ia kembali bertanya "Lalu, kapan kau akah berubah wahai orang yang mengaku Hamba Allah? Kau benar, kau Hamba Allah... tapi yang tidak pernah benar-benar menghamba"
Inilah aku; Si Pecundang. Aku masih membenci diriku sendiri, melontarkan makian berkali-kali, hanya kebencian yang semakin membatu pada diriku sendiri.

Temaram di wajahku masih nyata, kilau mereka masih terlalu jernih untuk kugapai. Aku berlari mengejar kilau itu, tapi mereka terlalu cepat dan aku tertinggal jauh. Kupakai apa yang mereka pakai walau tak serupa, kulakukan apa yang mereka kerjakan walau tak sewaktu, namun tetap tak kudapatkan diriku seindah mereka. Duhai Tuhan, bisakah aku yang buruk hati ini berkilau seperti mereka?


Sunday, November 17, 2013

Aku tahu ini bukan jaminan

Hari ini seperti hari hari biasanya, aku bangun-sekolah-pulang-makan-tidur dan berulang-ulang seterusnya, kalaupun ada kegiatan lain mungkin tak ada yang hebat. Hanya ada sesuatu yang berbeda, aku bersama benda asing yang akhirnya kujadikan kawan untuk bersekolah; kerudung. Jangan pikir bahwa aku berkerudung dan aku baik. Tidak. Aku masih bongkar-pasang, kalau sudah pulang sekolah ya... aku lepas, buat apa panas-panasan.

"Aku mau berkerudung di sekolah dulu, masih belajar" begitu bisikku kalau hendak melepas kerudung. Bahkan, kerudungku tak ubahnya kerudung kekecilan. Entahlah, aku tidak tahu ukuran yang benar kalau berkerudung, yang penting tertutup. Kadang kalau melihat cewek yang rambutnya di hias dan di gaya-gayain sedemikian rupa rasanya ingin kusudahi saja berkerudung seperti ini. Tapi, tekadku untuk memperbaiki diri selalu menyelamatkan kerudungku.

Pada suatu siang, aku hendak berangkat ke bioskop bersama temanku, tentu saja tanpa kerudung. Kemudian ada penumpang yang naik, entah kenapa darahku berdesir melihatnya, yang kulihat adalah perempuan sederhana yang memakai pakaian longgar dengan kerudungnya yang anggun, entah kenapa pula aku malu, sangat malu. Malu yang sama aku rasakan pada saat berkunjung ke rumah teman sebayaku dan ia sedang mengaji, merdu sekali.

Singkat cerita, aku berniat untuk menambah wawasanku soal agama, mulai rajin mengaji dan memperbaiki semua yang negatif. Aku baca buku, website, bertanya ke teman, dan apapun yang mendukung niatku. "Masak orang lain bisa, aku enggak" begitu pikirku. Sampai pada saat aku berada di angkot bersama temanku, ada dua orang perempuan (agak) gemuk dan berpakaian serba ketat yang sedang berbincang. Obrolan mereka berisik sekali, dengan mimik muka yang ekspresif membuat mataku sakit dan mau mimisan melihatnya, di ujung pembicaraan mereka menyindir perempuan entah siapa yang menurut pembicaraan mereka, perempuan tsb jilbaber yang pakaiannya tertutup dan lebar,"Emang gak risih apah! Yakin gak tuh pasti masuk surga?" celetuk salah satu dari mereka. Obrolannya nyerempet pula ke soal pesantren dengan nada yang negatif membuat aku semakin gerah dan untungnya mereka segera turun dari angkot. Fyuuh

"Emang gak risih apah! Yakin tuh pasti masuk surga?" terus terngiang di pikiranku. Aku tidak tahu apakah tujuanku berkerudung adalah surga, surga rasanya terlalu jauh untuk dibayangkan. Menurut yang kubaca, untuk masuk surga bukan hanya modal kerudung, tapi akhlak yang baik. Jadi, kerudung tanpa akhlak yg baik hanya akan menjadi sehelai kain tanpa 'ruh'. Aku tahu tuhanku yang maha baik itu juga maha melihat, tidak akan luput dari catatannya yang baik dan yang buruk. Usaha demi ridhoNya, tak perlu khawatir, semua dapat balasan sesuai perbuatannya.

Pernah kubaca juga artikel tentang jilbab hati, jilbabin hati dulu baru fisik begitu jargonnya. "Ukuran hati yang terjilbabi itu seperti apa sih?" Aku bertanya dalam hati. Apakah dengan tidak lagi berbuat dosa? Kita kan bukan malaikat? Entahlah. Mungkin kalau aku tidak pernah memutuskan berkerudung, aku tidak akan merasakan malu ketika tidak berbuat baik.

Itu ceritaku saat usiaku sekitar 16 tahun.

Lalu apa? Sekarang aku sudah baik? Tidak juga. Aku tidak pernah merasa baik, itu yang membuatku terus berusaha memperbaiki diri. Aku tahu kerudungku bukan jaminan, tapi sudah jelas bahwa tidak menutup aurat tidak akan mencium bau surga. Sama halnya dengan sholat, yang sudah 5 waktupun mustahil terhindar dari dosa, yang berjilbab pun sama, manusia biasa yang jauh dari sempurna. Kalau kautunggu sampai hatimu terjilbabi mungkin sampai seumur hidup. Biarkan jilbab fisikmu yang menjilbabi hatimu juga.

Monday, September 30, 2013

Tanpa Judul lagi.

Seperti yang kau bilang: Sahabat Selamanya
Tapi kisah kita ini sedikit lucu sahabat...
Kita bersama tapi tak saling mengenal
Tak saling mengetahui.

Kau biarkan aku menjelma bak detektif
Yang kau beri petunjuk; Petunjuk rancu
Hanya untuk mengetahui keadaanmu sekarang
Hanya untuk mengenali duka yang tersimpan

Aku tak ingin memaksamu membongkar duka
Untuk kau bagi kepadaku...
Aku tahu pundakmu cukup kuat untuk menanggung sendiri
Tapi ketahuilah..
Mata, hati, dan telingaku selalu menunggu untuk kau sentuh
Dengan segala yang tercurah

Jika hadirku tak bisa menjadi pelipur gundahmu
cukup doaku yang memelukmu dari kejauhan
Ana uhibbuki fillah <3 Sekartini Pamungkas.

Sunday, September 8, 2013

Nikah?

"Anak muda menilai pernikahan itu kayak ngeliat gunung dari jauh; keliatannya indah, padahal kalo dilihat dari deket banyak liku-liku & jalan terjal" - Ust. Zaky Mirza

Beberapa diantara kawan fb pasti ada yang udah mulai risau soal jodoh kan? Kenapa mesti dibikin galau? Emangnya ukh/akh udah siap banget nikah? Hihi :p emang sih kalo liatin orang pacaran itu indah banget rasanya, dua insan yg bersatu karena persamaan tapi kadang pas putus alesannya karena perbedaan *eh. Tapi sob, katanya sih nikah itu gak segampang pacaran, jangankan ngejalanin pernikahannya buat komitmennya aja masih banyak yang ogah-ogahan *bener apa bener?

Sob, nikah itu butuh persiapan yg mateng, bukan cuma modal duit buat akad dan hajatan loh tapi juga ilmu dan mental. Ilmu apa nih? Tentu ilmu ihwal suami-isteri, hak dan kewajibannya, mesti tau juga tauladannya rasul dalam berumah tangga ya sob jangan sampe udah nikah tapi si istri gak mau melayani suami dan suami gak mau nafkahin gegara gak ngerti hak dan tanggung jawab keduanya. Mental tempe gak buat orang yg nikah, semisal dikit-dikit ngambek minta cerai sambil nyanyi pulangkan sajaaa aku pada ibuku atau bapakkuuuu *gubraak haduh neng malu sama penghulu apalagi sama Allah. Seminar pra nikah bisa jadi alternatif yg bagus juga sob buat nambah pengetahuan soal nikah biar ada persiapan buat yg mau nikah atau cuma sebatas nambah ilmu.

Banyak banget remaja masa kini yang belum siap bangun rumah tangga tapi udah berani beradegan layaknya suami-isteri *nauzubillah minzalik, semoga kita bukan termasuk pribadi yg mudah terbuai nafsu sob. Nah terus kalo yang udah siap tapi belum ketemu jodoh gimana dong? Jawabannya ya 'tunggu ajah'. Kata 'tunggu ajah' yang penulis maksud bukan berarti kita cukup duduk manis sambil nunggu ikhwan berkuda putih dateng yah, kalau allah belum mempertemukan kita dengan jodoh kita berarti Allah sedang memberi waktu yg lebih lama bagi kita untuk menata dan memperindah diri agar dapatkan jodoh yang seindah diri kita kelak.

Jodoh, rahasia allah yang bikin hati geregetan pengen cepet tau. Gak perlu ke peramal sob buat tahu ihwal jodoh, cukup berdiri di depan kaca dan perhatikan diri dan hatimu, sudah baik kah? Karena allah menjanjikan bahwa lekaki yg baik untuk perempuan yg baik dan sebaliknya. Kemudian bertanya "apakah diriku akan jatuh cinta pada sosok lain yg seperti 'aku' yang seperti ini?" jika jawabannya tidak; maka sudah saatnya kita berbenah diri untuk menjadi pribadi yg berkualitas untuk jodoh yg berkualitas pula.

Gunakan waktu dalam penantian kita untuk berbenah diri yuk sob karena janji ALLAH itu PASTI, jadikan kegalauan yg bersarang dalam sanubari sebagai acuan buat selalu memperbaiki diri bukan buat diratapi dan dishare di jejaring sosial *ehh. Buat yang udah ketemu sama jodohnya #YukKeKUA :D

Aku pun yang nulis belum berkomitmen dan masih berstatus single di katepe, bermodal secuil ilmu tapi kalau bisa sharing why not?



Semoga bermanfaat.

@sitsaad / Siti Sa'adah D.D

Tuesday, July 30, 2013

Bangga menjadi perempuan :)

Pernahkah kita malu dilahirkan sebagai perempuan? Pernahkah terlintas rasa sesal dalam diri kita, karena kita adalah perempuan yang terbatas gerak geriknya dari pada lelaki? Kalau itu pernah terlintas, baiknya mulai saat ini kita buang jauh-jauh perasaan tidak berguna tersebut! Bahkan sebaliknya, kita harus lebih bangga karena kita terlahir sebagai perempuan. Banyak hal yang bisa kita raih, bisa tercipta dari tangan kita, bisa terwujud dengan kesungguhan kita, yang tidak dapat sama sekali dilakukan oleh kaum laki-laki.

Anggapan jelek tentang perempuan bisa dibilang berawal dari kisah pembunuhan Qabil atas sauadaranya, Habil. Hal itu dilakukan karena memperebutkan saudara perempuan mereka. Sebelum itu, ketika Hawa terhasut iblis untuk melanggar aturan Allah ketika di surga, kemudian menyebabkan dirinya dan suaminya, Adam, diturunkan ke bumi oleh Allah sebagai hukuman atas perbuatan mereka. Dari situ banyak yang beranggapan bahwa kaum perempuan hanya bisa memperburuk keadaan. Bahkan, orang-orang dahulu merasa malu jika mempunyai anak perempuan. Tidak segan-segan, kalau mendapati bayi yang lahir adalah perempuan, maka langsung dikubur hidup-hidup, sungguh kejam!

Tapi jangan salaah banyak juga kaum perempuan terdahulu yang sangat berpengaruh bagi sejarah islam yakni Ibunda dari tokoh yang paling berpengaruh bagi seluruh buana terutama umat islam yaitu Muhammad SAW, Aminah bintu Wahab, merupakan wanita paling mulia di zamannya. Lalu istri beliau, Khadijah binti Khuwailid, yang berkata setelah menjadi pendamping rasul, “Hartaku adalah hartamu dan aku adalah budakmu,” merupakan sosok wanita luar biasa. Ia rela dikucilkan oleh kaumnya demi mengikuti ajaran rasulullah dan tidak pelit dalam menolong dakwah islam. Beliau mengorbankan semua hartanya demi agama Allah. Beliau juga selalu menentramkan hati rasulullah. Beliau teman yang baik dalam berbagi, sehingga ketika beliau wafat, Rasulullah merasa sangat kehilangan. Kemudian tengok juga istri beliau yang bernama Aisyah Radiaullahu yang kecerdasannya memukau rasulullah. Dan masih banyak lagi wanita-wanita yang mengagumkan yang mengukir sejarah kebaikan dan membawa perubahan bagi umat maupun bagi dunia.

Allah memberikan perempuan perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Wanita adalah tali penghubung antar keluarga, persendian anggota bangsa, serta tempat mengalirnya darah umat yang dapat membangkitkan semangat hidup, dan gairah kerja. Wanita adalah tempat Allah SWT menitipkan segala arti keindahan yang memukau. Dengan kecantikan, keindahan dan kemanjaannya yang menawan, wanita menjadi tuan penguasa dan penakluk hati. Dia adalah teman yang jujur serta pendamping hidup pria dalam suka dan duka.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21)

Dibawah telapak kaki seorang ibu (perempuan) lah surga diletakkan, rasulullah pun menyebutkan ibu (perempuan) 3 kali lebih diutamakan dibanding ayah (lelaki). so? do u still regret to be a woman? think again! :D

Tuesday, July 16, 2013

Kicauan 01

Someone who is really loves you will never give up with "NO" answer. He will always live his life with shadows of you even he has made any relationship with another girl, he neither forget nor throw memories about you.

Monday, June 17, 2013

Leadership


 Wahai saudaraku bedahlah dadamu!
Masukannlah lahar membara
Memacu
Mencambuk
Membakar semangat dirimu
Mengubah dunia, membakar cinta
Campakan segala penyakit wahan
Karena kekuatan hanya berjodoh dengan keberanian
Sedangkan kelemahan hanya pantas bersanding dengan Sang Pengecut.

Bagi sang pemimpin dunia adalah lahan perjuangan
Disini hanya ada lahan bagi mereka yang kuat
Tidak berlaku sedu sedan
Tak juga tangis dan ratapan
Yang lemah akan tersungkur
Sang pengecut tergusur dan melacur
Wahai manusia dengan sayap malaikat
Kepakan sayapmu
Robek dan hancurkan segala tiran

Gubahlah dunia dengan amalmu
Sinari zaman dengan imanmu
Tebarkanlah seloka cinta
Agar cahaya membagi rindu
Damai direguk tak kenal puas

Tapi, itu pun kalau engkau kuat!
Di dadamu menyala Shultonan Nasiron
La ilaha illallah
Tauhid!


Wednesday, May 15, 2013

Jangan Menangis Ibu...

Hari ini tepat seminggu almarhum ayah pergi, namun tak banyak yang berubah dari penghuni rumah ini. Kakak perempuanku sudah kembali ke Bandung untuk bekerja, kakak laki-lakiku kembali pada kesibukannya menyusun skripsi, dan Ibu... tetap terlihat tegar, tak pernah kulihat ada air mata yang jatuh dari wajah cantiknya, tak pernah kulihat ada raut wajah yang sendu, ia tetap dengan canda tawanya yang selalu menghibur kami, padahal kami tahu ibu sangat mencintai ayah dan tak pernah kudengar keluh kesahnya saat merawat ayah, tapi mengapa saat ayah pergi senyumnya tak pernah pudar? apakah hanya aku saja yang merasa terluka saat ayah pergi? entahlah...

Kulihat ibu terduduk di kursi taman seraya melantunkan asma'ul husna dengan suara khasnya seperti biasa, tangannya sibuk menjahit bajuku yang robek karena kenakalanku memanjat pohon kemarin lusa.
"Bu, kok rumah ini jadi sepi ya gak ada ayah " sambil memeluk ibu dari belakang.
"Semua orang pasti akan ada gilirannya untuk pergi nak" seraya mengusap kepalaku.
"Tapi... Ibu gak kangen sama ayah? kok aku gak pernah lihat ibu sedih?" tanyaku.
"Ibu tidak sedih justru ibu bahagia" wajahnya tersenyum .
Mendengar jawaban ibu membuatku bingung dan segera duduk di hadapan Ibu.
"Loh kok bahagia bu? ibu tidak sayang sama ayah yahh" sahut ku.
"Hmm, ibu bahagia karena ayah tidak lagi merasakan kanker yang menyiksanya bertahun-tahun, ibu bahagia karena ayah pergi dengan menyebut nama Allah dan ibu bahagia karena disisa-sisa waktunya ibu bisa merawatnya dengan kasih sayang dan hanya itulah bisa ibu beri untuk membahagiakan ayahmu"
"Tapi aku lebih senang jika ayah sembuh bu, aku belum siap ditinggal ayah, aku ingin selalu bersama ayah" rengekku.
"Itu sudah ketetapan allah nak, ayah sudah bahagia disana tidak ada lagi yang harus kita risaukan tentang ayah, kelak Allah akan mempersatukan kita di keabadian dimana tidak ada kata berpisah, kalau kamu ingin bersama ayah maka cintailah Allah jangan kau hilangkan Allah dari hatimu, percayalah perpisahan ini hanya sementara" Jawabnya
Kali ini aku melihat ibu menangis menjawab pertanyaan ku, aku telah membengkitkan dukanya yang susah payah ia sembunyikan, aku ikut menangis mendengar kata-kata ibu yang tak pernah terlintas dipikiranku. Kenapa aku terlalu lemah pada takdir, Ibu maafkan aku... 

Friday, May 10, 2013

Analisis Linguistis Prefix UN- pada kata 'Unmood'


Akhir-akhir ini saya kerap mendengar dan melihat sebuah kata dalam bahasa Inggris, yaitu ‘unmood’, yang dipakai di dalam dunia maya, terutama pada social media seperti Twitter atau Instagram. Sebelumnya saya tidak negitu memperhatikan sampai salah seorang mahasiswa saya menanyakan tentang hal ini. Ia mempertanyakan apa sebenarnya makna dari unmoodpart of speech serta aturan gramatikalnya. Tanpa saya sadari, ternyata saya mulai tertarik untuk membahas dan menganalisis ‘terminology’ unmood ini lebih dalam.
Secara sederhana, kata unmood sendiri memang bukanlah sebuah kata dalam bahasa Inggris yang baku. Dalam kamus Oxford atau Merriam-Webster kita tidak akan menemukan kata unmood ini. Sebagai akibatnya, secara sederhana pula kita dapat menyimpulkan bahwa unmood bukanlah sebuah kata dalam bahasa Inggris. Mungkin ada usaha untuk membuat kata ini menjadi diterima kedalam bahasa Inggris sebagai sebuah new coinage, atau sebuah kata baru yang diterima oleh masyarakat pengguna bahasa tersebut.
Entah kapan dan oleh siapa sebenarnya kata ini muncul di dunia maya (Internet). Meski fenomena semacam ini bukanlah hal yang aneh, dimana istilah-istilah baru kerap bermunculan terutama dalam bidang-bidang komunikasi, informasi, dan teknologi. Beberapa kata malah sudah masuk ke dalam kamus bahasa Inggris sebagai salah satu entry, sebut saja kata-kata seperti google (transitive verb) yang pertama digunakan sekitar tahun 2001, download (noun/transitive verb) yang pertama digunakan tahun 1977 dan 1979, upload (transitive verb) yang pertama digunakan tahun 1979, atau istilah dalam media sosial Twittertweet(noun/intransitive verb) yang digunakan pada tahun 2000-an.
Lalu, apakah kata unmood tersebut akan menjadi sebuah new coinage seperti kata-kata dalam bahasa Inggris diatas? Apa makna sebenarnya dari unmoodtersebut? Dan secara gramatikal, apakah kata unmood dapat ‘diterima’ dan benar?
Untuk menjawabnya, saya akan mencoba membahasnya dengan melibatkan analisis linguistis, terutama morfologis dan semantis. Saya akan memulai dengansuffix (prefixun-.
Word-Formation Rules dari Suffix Un-
Secara morfologis, un- dalam bahasa Inggris merupakan sebuah suffix (imbuhan) yang diletakkan pada awal sebuah kata dan disebut pula sebagai prefix (awalan).Un- sendiri juga merupakan sebuah morpheme (satuan unit terkecil yang bermakna dalam tuturan/bahasa) yang bersifat bound morpheme (terikat), dimana morpheme un- tidak dapat berdiri sendiri dan hanya memiliki makna ketika ditempelkan (attached) pada morpheme yang merupakan stem/root/base (dasar kata). Sebagai contoh un- dapat ditempelkan pada adjective (kata sifat/adjektiva)available menjadi unavailableverb (kata kerja/verba) do menjadi undo, atau noun(kata benda/nomina) availability menjadi unavailability.
Menurut kamus Merriam-Webster, ada beberapa makna dari prefix un- ini:
  1. Not/non-: tidak atau bukan. Contoh: unambitious, unskilled, unkind, unfaithful, uncommon.
  2. Opposite of/contrary to/reverse: melakukan tindakan yang berlawanan dengan. Contoh: unconstitutional, ungraceful, unrest.
Lebih jauh, un- juga memiliki beberapa makna lain, yaitu:
  1. Deprive of/remove/release from: menghilangkan atau memindahkan atau melakukan hal yang berkebalikan. Contoh: undress, unfold, unhand, unzip.
  2. Cause to cease to be: membuat sesuatu menjadi bukan sesuatu tersebut. Contoh: unman (bukan manusia)
Menurut Ingo Plag dalam bukunya Word-Formation in Englishprefix un- juga dapat bermakna ‘lack of’ atau ‘kurang akan’ (unbelief: kurang kepercayaan) dan ‘not do’ atau ‘tidak melakukan’ (undo: tidak melakukan [membatalkan]).
Plag juga menambahkan bahwa prefix un- tidak dapat digunakan secara acak pada kata atau root apapun. Pada dasarnya, un- serupa dengan prefix in-, im-, il-, ir- atau dis- dalam bahasa Inggris, hanya penggunaannya memang tidak bisa saling menggantikan. Misalnya, adjective possible hanya bisa menggunakan prefixim- menjadi impossible, atau il- pada adjective logical menjadi illogical. Jadi, tidak umum untuk menggunakan un- sebagai prefix pada possible atau im- pada logical.
Prefix un- juga sebenarnya memiliki kemungkinan sangat besar menempel padaadjective dibanding verb atau nouns. Bahkan pada nouns, jumlah kata yang menggunakan prefix un- terbilang sangat kecil. Beberapa contohnya adalah:unbelief, unease, dan untruth, dimana makna dari un- sendiri cenderung pada ‘lack of’ atau ‘kurang akan’.
Makna Unmood
Bila melihat penjelasan diatas, dapat kita ketahui bahwa prefix un- kurang lebih bermakna ‘negatif’ yang berarti tidak, bukan, tidak termasuk, kurang akan, menggagalkan, atau melakukan hal yang berkebalikan. Jadi, mungkin kata unmoodkurang lebih berarti ‘not mood’ atau ‘not in mood’ atau secara sederhana berarti tidak dalam keaadaan mood.
Terus terang saya juga tidak dapat menemukan definisi unmood yang jelas, baik dari sumber berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia, apalagi penjelasan secara resmi. Namun begitu, saya kebetulan mendapatkan sebuah definisi yang mungkin memang tidak begitu baik menggambarkan makna kata unmood, namun dapat menjadi pertimbangan analisis ini.
Saya mendapatkan tulisan ini dari sebuah blog blogger yang masih sangat muda (mungkin masih siswa sekolah menengah pertama) dimana ia menuliskan dengan gaya bahasa modern dan informal (slang dalam bahasa Inggris atau ‘bahasa gaul’ dalam bahasa Inggris.):
‘bener-bener unmood itu disaat lagi happy-happynya gitu ada yang ngalangin gitu -_- kaya kemarin gue udah punya rencana buat reunian sama temen sd yang jarang banget ketemu terus tiba-tiba nyokap gak ngebolehin itulah yang namanyaunmood daaaannnnnnnn………….. gue akhirnya badmood seharian gak tau mau bilang apa sama teman yang datang pas itu ngerasa bersalah banget -_-‘ (LadyFerb.blogspot.com, Rabu, 25 April, 20120).
Dalam penjelasan diatas, secara semantis saya dapat mengartikan bahwa unmoodmemiliki dua makna sekaligus, pertama adalah ‘not do’ atau ‘cancelled’ (tidak melakukan/tidak jadi melakukan/tidak terjadi atau dibatalkan), serta ‘opposite of/contrary to’. Unmood cenderung diartikan keadaan seseorang yang hampir mengalami kesenangan atau kebahagiaan (state of happiness) dalam suatu hari atau waktu namun kemudian tidak terjadi atau terbatalkan karena sebuah halangan. Unmood kemudian juga diartikan saling berkaitan dengan bad mood, atau kondisi kejiwaan (state of mind) sedang dalam keadaan buruk atau tidak menyenangkan. Unmood mungkin malah serupa dengan ‘tidak mood’ atau ‘not in the mood’. Mood sendiri cenderung diartikan sebagai kondisi kejiwaan positif, yaitu perasaan bahagia atau senang.
Contoh penggunaan kata unmood dalam bahasa Inggris yang mewakili definisi diatas saya dapatkan pula dari sebuah tagline di dari seorang social media user: ‘Im in UNMOOD day … really sucky =/’
Analisis
Salah satu pertanyaan mahasiswa saya mengenai makna dari unmood ini nampaknya mulai dapat saya jawab, namun bagaimana dengan grammatical rules? Ini masih merupakan sebuah pertanyaan bahkan bagi saya sendiri. Pada contoh ‘Im in UNMOOD day’ unmood disini bertindak sebagai adjective, dimana ia menerangkan noun ‘day’. Secara sederhana, ‘unmood day’ berarti ‘hari yang buruk, atau hari yang tidak mood’. Namun, bila melihat makna mood sendiri, ternyata telah terjadi kesalahpahaman yang cukup besar di masyarakat.
Menurut kamus Merriam-Webster, ‘mood’ adalah noun yang didefinisikan sebagai: ‘a conscious state of mind or predominant emotion’ (keadaan jiwa yang sadar atau emosi yang paling menonjol). Jadi ‘mood’ tidak otomatis merujuk pada perasaan baik. Oleh sebab itu, ada pasangan kata untuk mood, yaitu good mooddan bad mood.
Secara morfologis, unmood adalah bentuk negatif dari mood dengan tambahanprefix un-. Secara semantis, unmood berarti ‘perasaan tidak mood, atau perasaan dalam keadaan yang buruk dan tidak bahagia.
Apakah ini cukup? Saya rasa tidak, karena sebenarnya saya sudah menjelaskan sebelumnya bahwa mood sendiri bukan berarti ‘perasaan bahagia atau positif’ namun sebuah perasaan netral, dimana bad atau good lah yang menentukan bentuk perasaan yang paling menonjol tersebut. Jadi bila dikatakan unmood, ini bisa saja berarti ‘without or no mood/feeling’ atau ‘tanpa perasaan’. Sedangkan bila menginginkan makna ‘sedang dalam perasaan yang tidak baik/buruk/tidak bahagia’ sebenarnya bahasa Inggris sudah menyediakannya, yaitu ‘not in the mood’ seperti pada pernyataan berikut:
A       : Well, let’s have a party tonight! (Yuk pesta malam ini) (formal: Mari mengadakan pesta malam ini)
B       : Hmpf… I don’t think so, I’m not in the mood rite now. (Nggak deh, lagi gak mood) (formal: Sepertinya tidak. Saya sedang tidak dalam kondisi perasaan yang baik saat ini).
Jadi, bukankan kata unmood sebenarnya masih mengambang, karena tidak tepat baik penggunaan maupun secara gramatikal dan linguistik? Dalam sebuah kalimat, kata unmood dapat menjadi sebuah adjective, dimana pada kenyataannya moodadalah sebuah noun. Mungkin pula unmood kemudian dapat pula menjadi sebuahverb, sama seperti undo. Makna pun kemudian ambigu dan sedikit membingungkan karena unmood hanya bersifat negatif, namun tidak secara konstan dan stabil merujuk pada makna negatif yang mana diantara tidak, bukan, tidak jadi/membatalkan, tidak melakukan, atau kurang akan …
Kesimpulan
Secara gramatikal maupun linguistis, sebenarnya kata unmood tidak tepat, karena tidak memiliki dasar. Penggunaannya menjadi ambigu dan tidak begitu jelas, karena merujuk ke banyak makna (meski semua sama-sama merujuk pada makna ‘negatif’). Sebagai akibatnya kata unmood akan digunakan secara acak dan ‘membabi-buta’. Ini sebenarnya juga sudah terjadi di dunia maya, terutama media sosial. Sebagai pengguna bahasa yang baik, mungkin ada baiknya menggunakannya dengan bijak, atau malah jangan menggunakannya terlebih dahulu for the sake of English (sorry if it’s just too much). Sedangkan bilaunmood ingin menjadi sebuah new coinage, atau kata atau peristilahan baru dalam bahasa Inggris, haruslah menjadi sebuah trend yang cederung ke arah positif dan memiliki dasar keilmuwan. Istilah google sendiri (termasuk grammatical formgoogling, googled dsb.) dengan gampang masuk menjadi sebuah new coinage karena syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu merujuk pada sebuah produk yang sangat populer sehingga dapat diterima masyarakat, dan sebuah kata yang sangat baru sehingga mudah untuk memberikannya bentuk-bentuk gramatikal dan linguistis berdasarkan bahasa Inggris. Ini cukup berbeda dengan unmood yang merupakan gejala ‘kanibalisme’ yang memakan aturan-aturan yang sudah ada dalam bahasa Inggris tetapi tidak menggunakannya dengan tepat.
Jadi dengan tegas saya simpulkan bahwa kata unmood sebenarnya tidak tepat dan tidak memiliki makna yang jelas bila kita merujuk dan mendasarkan pada aturan gramatikal bahasa Inggris.
Namun, bila pertanyaannya adalah mengenai masa depan kata unmood untuk menjadi sebuah new coinage yang diterima masyarakat internasional, well… saya tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Hanya saja bila melihat popularitas kata ini, seperti pada kasus-kasus new coinage yang berhubungan dengan teknologi dan informasi melalui dunia maya, kemungkinan ini cukup besar.
Jadi saya rasa, analisis saya cukup sampai disini sembari kita melihat perkembangan di dunia maya. Saya tidak akan membahasnya lebih jauh lagi, karena terus terang saya menjadi unmood ketika mendengar kata unmood. Ini sama saja meng-unmood-kan good mood saya (I become unmood when I hear unmood word. It’s just like to unmood my good mood).

Thursday, May 9, 2013

Jilbab Hati


Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya. Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, “Insyaallah. Yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakannya maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.Hingga di suatu malam…Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah.
Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas di pinngir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ia tidak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat jjuga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.“Assalamualaikum, saudariku..”“Wa alaikumsalam.. Selamat datang, saudariku.”“Terima kasih. Apakah ini surga?” Wanita itu tersenyum.“Tentu saja bukan, saudariku. ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga.”“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini.” Wanita itu tersenyum lagi.“Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku?”“Aku selalu menjaga waktu sholat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”“Alhamdulillah..”Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasukinya satu persatu.“Ayo, kita ikuti mereka.” kata wanita itu sambil setengah berlari.“Apa di balik pintu itu?” katanya sambil mengikuti wanita itu.“Tentu saja surga, saudariku” larinya semakin cepat.“Tunggu…tunggu aku..” ia berlari namun tetap tertinggal.Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, ” Amalan apa yang telah kau lakukan hingga kau begitu ringan?”“Sama denganmu, saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu, “Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan?”Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?”Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?”Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, “Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Maka kau tak akan pernah mendapatkan surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.” Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan sholat malam. Menangis dan menyesali perkataannya dulu..berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

I think dream is...

Mimpi memang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan karena mimpilah yang membuat kita bertahan hidup meski nafas penderitaan tengah tersengal-sengal namun dengan mimpi itulah kita masih punya secerca harapan. ketika mimpi terhadang badai dan memaksa kita untuk pindah haluan tapi bukan berarti mimpi itu sirna tapi mungkin tuhan menyiapkan jalan lain untuk sampai ke tempat tujuan. Do'a bukanlah tumpuan agar mimpi itu tercapai tapi usahalah yang menentukan apakah pantas kita mendapatkan mimpi itu. sekecil apapun mimpi itu ALLAH maha mendengar, kejar dan laksanakan!