Monday, July 21, 2014

Menunggu

"Tidak ada salahnya menunggu sambil memperbaiki diri, kan? Semisal yang kutunggu tak kunjung datang, setidaknya penantianku tidaklah sia-sia; telah kudapatkan diriku menjadi yang lebih baik."

Sunday, February 9, 2014

Merdeka.

Kebebasan itu semu. Memang, selama manusia hidup akan ada selau peraturan yang mengikat. Baik aturan agama, norma dalam masyarakat dan 'aturan' yang timbul dari nurani manusia. Bagiku, kebebasan itu tak ubahnya dongeng dari orang-orang yang tidak mensyukuri hidupnya. Bahkan, sampai matipun manusia tidak akan pernah bebas. Tidak akan bebas untuk mempertanggung jawabkan amalnya di dunia.

I want to be Independent


Merdeka. Ya, mungkin lebih tepatnya aku ingin merdeka bukan bebas. Merdeka dari kungkungan rasa takut yang membunuhku pelan-pelan, dari kekhawatiran gelapnya masa depan, dan merdeka dari perasaan khawatir kedua orang tuaku. Banyak hal yang kutakuti selama ini, aku takut mati dan takut kehilangan orang-orang yang kucintai, entah karena aku terlalu mencintai dunia atau perasaan ini memang wajar dirasakan oleh makhluk yang bernyawa. Kepalaku ini ibarat lahan yang bisa kutanami pohon-pohon indah yang kuinginkan, terkadang ada pula semak belukar yang tumbuh dengan semaunya. Semak belukar itu, setiap kali kucabut, akan ada sekawan belukar lain yang tumbuh. Tanaman hama tersebut yang membuatku tak bisa merdeka dan terkadang bertumbuh subur dan mengalahkan logikaku. Pada puncak-puncak pohon yang kutanam di lahan itu, aku sampirkan sekuntum bunga yang kuharap bisa menyatu dan tumbuh bersama pohon yang kutanam. Bunga itu kuberi nama Mimpi. Meski sulit, aku yakin bunga itu bisa tumbuh dan bermekaran bersama pohon-pohon yang kutanam, kemudian bunga-bunga yang bermekaran itu menjelma menjadi nyata dalam duniaku. Aneh memang. Aku tak peduli, toh itu kan kebun pribadiku. Namun, terkadang aku takut bunga-bunga itu tak bisa menyesuaikan diri dengan pohon yang kutanam dan berakhir layu. Aku takut sekali. Even my tears can't grow up the flowers .

I want to sail along the ocean stretches, feeling the wind, touching the sea water and tasting the sweet and bitter journey.

Aku hafal sekali dengan nasihat Imam Syafi'i yang tertulis pada novel favoritku, novel trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi:
"Orang berilmu dan beradab
Tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu (cendana) tak ubahnya
seperti kayu biasa jika didalam hutan."

Begitulah syair dari Imam Syafi'i yang sangat ingin kujalani, tapi kemana? hehe. Aku bermimpi ingin kesana, ingin kesitu, banyak sekali deh heheh. Tapi, nuraniku berkata bahwa aku belum pantas, aku belum punya modal intelektual yang cukup untuk berpergian 'gratis' seperti yang dijalani Ahmad Fuadi melalui program Study Exchange. Untuk menuntut ilmu ke Jakarta saja, orang tuaku melarang dengan seabrek alasan, aku tahu mereka menyayangiku tapi apa salahnya berlelah-lelah, bermacet-macet ke Jakarta kalau niatnya ingin menuntut ilmu?. Mereka tak mengindahkan keinginanku dan tetap melarangku. Lalu bagaimana jika suatu hari nanti aku hendak pergi ke luar negeri? aku bisa membayangkan 'Drama' macam apa yang akan terjadi. Aku ingin menepis semua kekhawatiran orang tuaku, ingin sekali kubuktikan bahwa aku bukan lagi gadis lugu yang mudah dibodohi orang lain. Aku ingin mereka percaya padaku dan membiarkan aku merdeka untuk pergi kemanapun asal niatnya baik.

Merdeka. Ini mimpi yang besar bagiku karena I admit, it's not easy to get it. Menghempas badanku ke padang rumput hijau, menghirup aroma kemerdekaan sambil memandang awan putih yang menyelamati kemerdekaanku sebagai gadis pengimplementasi nasihat imam syafi'i. I'm waiting that moments come to me, hopefully.



Wednesday, January 8, 2014

Untuk Si Patah Hati

Kehilangan bukan tentang perpisahan dan pergantian status. Melainkan, kehilangan adalah saat kamu tidak lagi terlibat dalam kehidupannya. Kamu, aku, dan mereka pasti pernah merasakan yang namanya kehilangan, kemungkinan rasanya sama, hampa.

Refleksi dari kehilangan ini biasa disebut Patah Hati. Begitu kuat pengaruh dari kehilangan hingga dapat mematahkan hati manusia meski tak berdarah, memang manusia adalah makhluk yang lemah, bukan soal laki-laki atau perempuan, perasaan kehilangan seringkali menjadi faktor utama terjadinya banyak hal di dunia ini. Bisa jadi faktor dari bunuh diri, keputus-asaan, bahkan kegilaan. Dari berbagai akibat yang dupicu dari rasa kehilangan, adakah upaya kita agar kehilangan dapat berpengaruh positif bagi diri kita? kebanyakan orang justru ikut larut dalam kesedihan, mengurung diri dari keceriaan, dan menangis sudah menjadi budaya orang Patah Hati, entah menangis secara langsung atau menangis dalam hati. Yuk, kita rumuskan dan renungkan bersama-sama obatnya:

1. Muhasabah Diri, bisa jadi semua hal terjadi karena kelalaian kita untuk menjaga hal-hal yang kita miliki, orang terkasih, barang yang disuka, atau diri kita sendiri. Ada baiknya kita mengoreksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
2. MOVE ON, ini adalah poin terpenting, tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui proses yang panjang, tergantung kemauan masing-masing individu.
3. Percaya bahwa Allah akan mengganti yang telah hilang dengan yang lebih baik. Istilah "Mati satu, tumbuh 1000" memang tak selalu tepat, namun percayalah bahwa semua akan indah pada waktunya. 

“Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Suci Engkau yang telah menciptakan ada dan tiada. Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak ada punya dan mempunyai selain Engkau.
Tetapi mengapa Kau harus menciptakan perasaan? Mengapa Kau harus memasukkan bongkah yang disebut dengan "perasaan" itu pada mahkluk ciptaanMu? Perasaan kehilangan...perasaan memiliki...perasaan mencintai...
Kami tak melihat, Kau berikan mata; kami tak mendengar, Kau berikan telinga; Kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kau berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Jelas sekali, semua itu berguna! Tetapi mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu? Mengapa Kau letakkan bongkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami. Mengapa? ”
― Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa


Aku menulis ini bukan sebagai orang yang puitis, bukan sebagai orang yang kuat, bukan pula sebagai orang yang lemah, tapi sebagai hadiah untuk orang-orang yang patah hati, bisa jadi, tulisan ini adalah untuk diriku sendiri. :''')