Wednesday, May 15, 2013

Jangan Menangis Ibu...

Hari ini tepat seminggu almarhum ayah pergi, namun tak banyak yang berubah dari penghuni rumah ini. Kakak perempuanku sudah kembali ke Bandung untuk bekerja, kakak laki-lakiku kembali pada kesibukannya menyusun skripsi, dan Ibu... tetap terlihat tegar, tak pernah kulihat ada air mata yang jatuh dari wajah cantiknya, tak pernah kulihat ada raut wajah yang sendu, ia tetap dengan canda tawanya yang selalu menghibur kami, padahal kami tahu ibu sangat mencintai ayah dan tak pernah kudengar keluh kesahnya saat merawat ayah, tapi mengapa saat ayah pergi senyumnya tak pernah pudar? apakah hanya aku saja yang merasa terluka saat ayah pergi? entahlah...

Kulihat ibu terduduk di kursi taman seraya melantunkan asma'ul husna dengan suara khasnya seperti biasa, tangannya sibuk menjahit bajuku yang robek karena kenakalanku memanjat pohon kemarin lusa.
"Bu, kok rumah ini jadi sepi ya gak ada ayah " sambil memeluk ibu dari belakang.
"Semua orang pasti akan ada gilirannya untuk pergi nak" seraya mengusap kepalaku.
"Tapi... Ibu gak kangen sama ayah? kok aku gak pernah lihat ibu sedih?" tanyaku.
"Ibu tidak sedih justru ibu bahagia" wajahnya tersenyum .
Mendengar jawaban ibu membuatku bingung dan segera duduk di hadapan Ibu.
"Loh kok bahagia bu? ibu tidak sayang sama ayah yahh" sahut ku.
"Hmm, ibu bahagia karena ayah tidak lagi merasakan kanker yang menyiksanya bertahun-tahun, ibu bahagia karena ayah pergi dengan menyebut nama Allah dan ibu bahagia karena disisa-sisa waktunya ibu bisa merawatnya dengan kasih sayang dan hanya itulah bisa ibu beri untuk membahagiakan ayahmu"
"Tapi aku lebih senang jika ayah sembuh bu, aku belum siap ditinggal ayah, aku ingin selalu bersama ayah" rengekku.
"Itu sudah ketetapan allah nak, ayah sudah bahagia disana tidak ada lagi yang harus kita risaukan tentang ayah, kelak Allah akan mempersatukan kita di keabadian dimana tidak ada kata berpisah, kalau kamu ingin bersama ayah maka cintailah Allah jangan kau hilangkan Allah dari hatimu, percayalah perpisahan ini hanya sementara" Jawabnya
Kali ini aku melihat ibu menangis menjawab pertanyaan ku, aku telah membengkitkan dukanya yang susah payah ia sembunyikan, aku ikut menangis mendengar kata-kata ibu yang tak pernah terlintas dipikiranku. Kenapa aku terlalu lemah pada takdir, Ibu maafkan aku... 

Friday, May 10, 2013

Analisis Linguistis Prefix UN- pada kata 'Unmood'


Akhir-akhir ini saya kerap mendengar dan melihat sebuah kata dalam bahasa Inggris, yaitu ‘unmood’, yang dipakai di dalam dunia maya, terutama pada social media seperti Twitter atau Instagram. Sebelumnya saya tidak negitu memperhatikan sampai salah seorang mahasiswa saya menanyakan tentang hal ini. Ia mempertanyakan apa sebenarnya makna dari unmoodpart of speech serta aturan gramatikalnya. Tanpa saya sadari, ternyata saya mulai tertarik untuk membahas dan menganalisis ‘terminology’ unmood ini lebih dalam.
Secara sederhana, kata unmood sendiri memang bukanlah sebuah kata dalam bahasa Inggris yang baku. Dalam kamus Oxford atau Merriam-Webster kita tidak akan menemukan kata unmood ini. Sebagai akibatnya, secara sederhana pula kita dapat menyimpulkan bahwa unmood bukanlah sebuah kata dalam bahasa Inggris. Mungkin ada usaha untuk membuat kata ini menjadi diterima kedalam bahasa Inggris sebagai sebuah new coinage, atau sebuah kata baru yang diterima oleh masyarakat pengguna bahasa tersebut.
Entah kapan dan oleh siapa sebenarnya kata ini muncul di dunia maya (Internet). Meski fenomena semacam ini bukanlah hal yang aneh, dimana istilah-istilah baru kerap bermunculan terutama dalam bidang-bidang komunikasi, informasi, dan teknologi. Beberapa kata malah sudah masuk ke dalam kamus bahasa Inggris sebagai salah satu entry, sebut saja kata-kata seperti google (transitive verb) yang pertama digunakan sekitar tahun 2001, download (noun/transitive verb) yang pertama digunakan tahun 1977 dan 1979, upload (transitive verb) yang pertama digunakan tahun 1979, atau istilah dalam media sosial Twittertweet(noun/intransitive verb) yang digunakan pada tahun 2000-an.
Lalu, apakah kata unmood tersebut akan menjadi sebuah new coinage seperti kata-kata dalam bahasa Inggris diatas? Apa makna sebenarnya dari unmoodtersebut? Dan secara gramatikal, apakah kata unmood dapat ‘diterima’ dan benar?
Untuk menjawabnya, saya akan mencoba membahasnya dengan melibatkan analisis linguistis, terutama morfologis dan semantis. Saya akan memulai dengansuffix (prefixun-.
Word-Formation Rules dari Suffix Un-
Secara morfologis, un- dalam bahasa Inggris merupakan sebuah suffix (imbuhan) yang diletakkan pada awal sebuah kata dan disebut pula sebagai prefix (awalan).Un- sendiri juga merupakan sebuah morpheme (satuan unit terkecil yang bermakna dalam tuturan/bahasa) yang bersifat bound morpheme (terikat), dimana morpheme un- tidak dapat berdiri sendiri dan hanya memiliki makna ketika ditempelkan (attached) pada morpheme yang merupakan stem/root/base (dasar kata). Sebagai contoh un- dapat ditempelkan pada adjective (kata sifat/adjektiva)available menjadi unavailableverb (kata kerja/verba) do menjadi undo, atau noun(kata benda/nomina) availability menjadi unavailability.
Menurut kamus Merriam-Webster, ada beberapa makna dari prefix un- ini:
  1. Not/non-: tidak atau bukan. Contoh: unambitious, unskilled, unkind, unfaithful, uncommon.
  2. Opposite of/contrary to/reverse: melakukan tindakan yang berlawanan dengan. Contoh: unconstitutional, ungraceful, unrest.
Lebih jauh, un- juga memiliki beberapa makna lain, yaitu:
  1. Deprive of/remove/release from: menghilangkan atau memindahkan atau melakukan hal yang berkebalikan. Contoh: undress, unfold, unhand, unzip.
  2. Cause to cease to be: membuat sesuatu menjadi bukan sesuatu tersebut. Contoh: unman (bukan manusia)
Menurut Ingo Plag dalam bukunya Word-Formation in Englishprefix un- juga dapat bermakna ‘lack of’ atau ‘kurang akan’ (unbelief: kurang kepercayaan) dan ‘not do’ atau ‘tidak melakukan’ (undo: tidak melakukan [membatalkan]).
Plag juga menambahkan bahwa prefix un- tidak dapat digunakan secara acak pada kata atau root apapun. Pada dasarnya, un- serupa dengan prefix in-, im-, il-, ir- atau dis- dalam bahasa Inggris, hanya penggunaannya memang tidak bisa saling menggantikan. Misalnya, adjective possible hanya bisa menggunakan prefixim- menjadi impossible, atau il- pada adjective logical menjadi illogical. Jadi, tidak umum untuk menggunakan un- sebagai prefix pada possible atau im- pada logical.
Prefix un- juga sebenarnya memiliki kemungkinan sangat besar menempel padaadjective dibanding verb atau nouns. Bahkan pada nouns, jumlah kata yang menggunakan prefix un- terbilang sangat kecil. Beberapa contohnya adalah:unbelief, unease, dan untruth, dimana makna dari un- sendiri cenderung pada ‘lack of’ atau ‘kurang akan’.
Makna Unmood
Bila melihat penjelasan diatas, dapat kita ketahui bahwa prefix un- kurang lebih bermakna ‘negatif’ yang berarti tidak, bukan, tidak termasuk, kurang akan, menggagalkan, atau melakukan hal yang berkebalikan. Jadi, mungkin kata unmoodkurang lebih berarti ‘not mood’ atau ‘not in mood’ atau secara sederhana berarti tidak dalam keaadaan mood.
Terus terang saya juga tidak dapat menemukan definisi unmood yang jelas, baik dari sumber berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia, apalagi penjelasan secara resmi. Namun begitu, saya kebetulan mendapatkan sebuah definisi yang mungkin memang tidak begitu baik menggambarkan makna kata unmood, namun dapat menjadi pertimbangan analisis ini.
Saya mendapatkan tulisan ini dari sebuah blog blogger yang masih sangat muda (mungkin masih siswa sekolah menengah pertama) dimana ia menuliskan dengan gaya bahasa modern dan informal (slang dalam bahasa Inggris atau ‘bahasa gaul’ dalam bahasa Inggris.):
‘bener-bener unmood itu disaat lagi happy-happynya gitu ada yang ngalangin gitu -_- kaya kemarin gue udah punya rencana buat reunian sama temen sd yang jarang banget ketemu terus tiba-tiba nyokap gak ngebolehin itulah yang namanyaunmood daaaannnnnnnn………….. gue akhirnya badmood seharian gak tau mau bilang apa sama teman yang datang pas itu ngerasa bersalah banget -_-‘ (LadyFerb.blogspot.com, Rabu, 25 April, 20120).
Dalam penjelasan diatas, secara semantis saya dapat mengartikan bahwa unmoodmemiliki dua makna sekaligus, pertama adalah ‘not do’ atau ‘cancelled’ (tidak melakukan/tidak jadi melakukan/tidak terjadi atau dibatalkan), serta ‘opposite of/contrary to’. Unmood cenderung diartikan keadaan seseorang yang hampir mengalami kesenangan atau kebahagiaan (state of happiness) dalam suatu hari atau waktu namun kemudian tidak terjadi atau terbatalkan karena sebuah halangan. Unmood kemudian juga diartikan saling berkaitan dengan bad mood, atau kondisi kejiwaan (state of mind) sedang dalam keadaan buruk atau tidak menyenangkan. Unmood mungkin malah serupa dengan ‘tidak mood’ atau ‘not in the mood’. Mood sendiri cenderung diartikan sebagai kondisi kejiwaan positif, yaitu perasaan bahagia atau senang.
Contoh penggunaan kata unmood dalam bahasa Inggris yang mewakili definisi diatas saya dapatkan pula dari sebuah tagline di dari seorang social media user: ‘Im in UNMOOD day … really sucky =/’
Analisis
Salah satu pertanyaan mahasiswa saya mengenai makna dari unmood ini nampaknya mulai dapat saya jawab, namun bagaimana dengan grammatical rules? Ini masih merupakan sebuah pertanyaan bahkan bagi saya sendiri. Pada contoh ‘Im in UNMOOD day’ unmood disini bertindak sebagai adjective, dimana ia menerangkan noun ‘day’. Secara sederhana, ‘unmood day’ berarti ‘hari yang buruk, atau hari yang tidak mood’. Namun, bila melihat makna mood sendiri, ternyata telah terjadi kesalahpahaman yang cukup besar di masyarakat.
Menurut kamus Merriam-Webster, ‘mood’ adalah noun yang didefinisikan sebagai: ‘a conscious state of mind or predominant emotion’ (keadaan jiwa yang sadar atau emosi yang paling menonjol). Jadi ‘mood’ tidak otomatis merujuk pada perasaan baik. Oleh sebab itu, ada pasangan kata untuk mood, yaitu good mooddan bad mood.
Secara morfologis, unmood adalah bentuk negatif dari mood dengan tambahanprefix un-. Secara semantis, unmood berarti ‘perasaan tidak mood, atau perasaan dalam keadaan yang buruk dan tidak bahagia.
Apakah ini cukup? Saya rasa tidak, karena sebenarnya saya sudah menjelaskan sebelumnya bahwa mood sendiri bukan berarti ‘perasaan bahagia atau positif’ namun sebuah perasaan netral, dimana bad atau good lah yang menentukan bentuk perasaan yang paling menonjol tersebut. Jadi bila dikatakan unmood, ini bisa saja berarti ‘without or no mood/feeling’ atau ‘tanpa perasaan’. Sedangkan bila menginginkan makna ‘sedang dalam perasaan yang tidak baik/buruk/tidak bahagia’ sebenarnya bahasa Inggris sudah menyediakannya, yaitu ‘not in the mood’ seperti pada pernyataan berikut:
A       : Well, let’s have a party tonight! (Yuk pesta malam ini) (formal: Mari mengadakan pesta malam ini)
B       : Hmpf… I don’t think so, I’m not in the mood rite now. (Nggak deh, lagi gak mood) (formal: Sepertinya tidak. Saya sedang tidak dalam kondisi perasaan yang baik saat ini).
Jadi, bukankan kata unmood sebenarnya masih mengambang, karena tidak tepat baik penggunaan maupun secara gramatikal dan linguistik? Dalam sebuah kalimat, kata unmood dapat menjadi sebuah adjective, dimana pada kenyataannya moodadalah sebuah noun. Mungkin pula unmood kemudian dapat pula menjadi sebuahverb, sama seperti undo. Makna pun kemudian ambigu dan sedikit membingungkan karena unmood hanya bersifat negatif, namun tidak secara konstan dan stabil merujuk pada makna negatif yang mana diantara tidak, bukan, tidak jadi/membatalkan, tidak melakukan, atau kurang akan …
Kesimpulan
Secara gramatikal maupun linguistis, sebenarnya kata unmood tidak tepat, karena tidak memiliki dasar. Penggunaannya menjadi ambigu dan tidak begitu jelas, karena merujuk ke banyak makna (meski semua sama-sama merujuk pada makna ‘negatif’). Sebagai akibatnya kata unmood akan digunakan secara acak dan ‘membabi-buta’. Ini sebenarnya juga sudah terjadi di dunia maya, terutama media sosial. Sebagai pengguna bahasa yang baik, mungkin ada baiknya menggunakannya dengan bijak, atau malah jangan menggunakannya terlebih dahulu for the sake of English (sorry if it’s just too much). Sedangkan bilaunmood ingin menjadi sebuah new coinage, atau kata atau peristilahan baru dalam bahasa Inggris, haruslah menjadi sebuah trend yang cederung ke arah positif dan memiliki dasar keilmuwan. Istilah google sendiri (termasuk grammatical formgoogling, googled dsb.) dengan gampang masuk menjadi sebuah new coinage karena syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu merujuk pada sebuah produk yang sangat populer sehingga dapat diterima masyarakat, dan sebuah kata yang sangat baru sehingga mudah untuk memberikannya bentuk-bentuk gramatikal dan linguistis berdasarkan bahasa Inggris. Ini cukup berbeda dengan unmood yang merupakan gejala ‘kanibalisme’ yang memakan aturan-aturan yang sudah ada dalam bahasa Inggris tetapi tidak menggunakannya dengan tepat.
Jadi dengan tegas saya simpulkan bahwa kata unmood sebenarnya tidak tepat dan tidak memiliki makna yang jelas bila kita merujuk dan mendasarkan pada aturan gramatikal bahasa Inggris.
Namun, bila pertanyaannya adalah mengenai masa depan kata unmood untuk menjadi sebuah new coinage yang diterima masyarakat internasional, well… saya tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Hanya saja bila melihat popularitas kata ini, seperti pada kasus-kasus new coinage yang berhubungan dengan teknologi dan informasi melalui dunia maya, kemungkinan ini cukup besar.
Jadi saya rasa, analisis saya cukup sampai disini sembari kita melihat perkembangan di dunia maya. Saya tidak akan membahasnya lebih jauh lagi, karena terus terang saya menjadi unmood ketika mendengar kata unmood. Ini sama saja meng-unmood-kan good mood saya (I become unmood when I hear unmood word. It’s just like to unmood my good mood).

Thursday, May 9, 2013

Jilbab Hati


Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya. Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, “Insyaallah. Yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakannya maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.Hingga di suatu malam…Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah.
Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas di pinngir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ia tidak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat jjuga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.“Assalamualaikum, saudariku..”“Wa alaikumsalam.. Selamat datang, saudariku.”“Terima kasih. Apakah ini surga?” Wanita itu tersenyum.“Tentu saja bukan, saudariku. ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga.”“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini.” Wanita itu tersenyum lagi.“Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku?”“Aku selalu menjaga waktu sholat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”“Alhamdulillah..”Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasukinya satu persatu.“Ayo, kita ikuti mereka.” kata wanita itu sambil setengah berlari.“Apa di balik pintu itu?” katanya sambil mengikuti wanita itu.“Tentu saja surga, saudariku” larinya semakin cepat.“Tunggu…tunggu aku..” ia berlari namun tetap tertinggal.Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, ” Amalan apa yang telah kau lakukan hingga kau begitu ringan?”“Sama denganmu, saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu, “Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan?”Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?”Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?”Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, “Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Maka kau tak akan pernah mendapatkan surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.” Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan sholat malam. Menangis dan menyesali perkataannya dulu..berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

I think dream is...

Mimpi memang harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan karena mimpilah yang membuat kita bertahan hidup meski nafas penderitaan tengah tersengal-sengal namun dengan mimpi itulah kita masih punya secerca harapan. ketika mimpi terhadang badai dan memaksa kita untuk pindah haluan tapi bukan berarti mimpi itu sirna tapi mungkin tuhan menyiapkan jalan lain untuk sampai ke tempat tujuan. Do'a bukanlah tumpuan agar mimpi itu tercapai tapi usahalah yang menentukan apakah pantas kita mendapatkan mimpi itu. sekecil apapun mimpi itu ALLAH maha mendengar, kejar dan laksanakan!