Thursday, December 12, 2013

Puisi | Potret Negeriku

Untuk pagi yang aku rindukan
Manakala matahari beringsut dari timur
Yang cahayanya hadirkan harapan
Pada embun yang setia menyambut
Pada pepohonan yang lelap bersama rembulan

Kubuka jendela namun tak kudapati yang kuminta
Apalah gunanya mentari jika semua gelap gulita
Jutaan anak kelaparan
Jutaan anak hidup dalam kebodohan
Jutaan ibu mati dalam perjuangan
Jutaan bapak tak mengaku sebagai bapak


Inikah potret negeriku yang hampir tumbang?
Yang moralnya terkikis dan terbuang
Sedang tiang iklan para punggawa berdiri kokoh menjulang
Yang jiwa patriotnya tumbuh saat dekat peluang
Ya, peluang jadi pemimpin gadungan

Orang miskin paling mulia di negeri ini
Teristimewa yang miskin ilmu dan agamanya
Rupiahmu mampu taklukan mereka
Atas janji-janji demokrasi klise
Sudahlah, jangan kausebut-sebut lagi demokrasi yang mati dibunuh keserakahan itu
Arwahnya sudah tenang bersama mimpi-mimpi perindu keadilan

Aku benci pada pagi yg suguhkan pilu
Aku rindu pagi yang dulu
yang mungkin tak sempat dirasakan generasiku
Embun tak lagi bening
Keruh. Lirih

No comments:

Post a Comment